Sistem penegakan hukum kartu merah dalam sepak bola kini tengah berada dalam ketidakpastian mendalam. Hal ini terjadi setelah adanya keputusan kontroversial untuk membatalkan sanksi larangan bertanding yang seharusnya diterima oleh bintang lini serang Amerika Serikat, Folarin Balogun. Penyerang andalan tersebut sebelumnya diganjar kartu merah saat membawa timnya menang atas Bosnia-Herzegovina di babak 32 besar.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan regulasi resmi, pemain yang diusir keluar lapangan pada ajang Piala Dunia dipastikan harus absen pada pertandingan berikutnya tanpa pengecualian. Namun, lewat keputusan terbaru ini, Balogun dipastikan siap memperkuat Amerika Serikat untuk menghadapi Belgia di babak 16 besar pada hari Senin. Pemain tersebut saat ini menjadi pencetak gol terbanyak bagi negaranya di turnamen dengan torehan tiga gol.
Dari pengamatan tim redaksi, sepanjang sejarah Piala Dunia telah tercipta 189 kartu merah, dan tercatat hanya ada dua pemain yang lolos dari hukuman suspensi otomatis. Kasus pertama terjadi pada tahun 1962 silam ketika legenda Brasil, Garrincha, tetap diizinkan tampil di partai final melawan Cekoslowakia meskipun sempat dikartu merah pada laga semifinal melawan Cile.
Menurut laporan tim investigasi, terbebasnya Garrincha dari sanksi pada era terdahulu sempat dibayangi oleh dugaan intervensi politik, dan situasi serupa disinyalir kembali terulang hari ini. Mengingat hubungan erat yang terjalin antara pihak Gedung Putih dengan FIFA, keputusan yang sangat tidak biasa ini dinilai sangat menguntungkan posisi Amerika Serikat selaku salah satu tuan rumah bersama.
Dari pantauan redaksi, sejumlah laporan media menyebutkan bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sempat melakukan panggilan telepon langsung kepada Presiden FIFA, Gianni Infantino, pada awal pekan ini demi meminta peninjauan ulang terhadap kartu merah tersebut. Hingga saat ini, pihak otoritas terkait masih bungkam mengenai kebenaran spekulasi intervensi tersebut.
Langkah mengejutkan ini dikhawatirkan akan memicu preseden buruk bagi masa depan sepak bola internasional dunia. Publik kini mempertanyakan alasan mengapa hanya Balogun yang mendapatkan pengampunan khusus, sementara 11 pemain lain yang juga menerima kartu merah di ajang Piala Dunia kali ini tetap diwajibkan menjalani hukuman larangan bertanding.