Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) dilaporkan tengah mempertimbangkan sanksi disipliner setelah sejumlah pemain tim nasional Argentina membentangkan spanduk bernada politik yang mengklaim kedaulatan atas Kepulauan Falkland. Aksi tersebut dilakukan usai kemenangan dramatis 2-1 atas Inggris pada babak semifinal Piala Dunia 2026 di Atlanta, Rabu lalu.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan pantauan redaksi, beberapa pemain kunci Argentina seperti Lisandro Martinez, Cristian Romero, dan Giovani Lo Celso terlihat membentangkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" yang berarti "Falkland adalah milik Argentina". Tindakan ini langsung memicu reaksi keras karena wilayah Kepulauan Falkland di Samudra Atlantik bagian selatan masih menjadi sengketa kedaulatan yang sensitif antara Britania Raya dan Argentina pascakonflik berdarah pada tahun 1982 silam.
Menurut regulasi resmi yang berlaku, FIFA secara tegas melarang keras segala bentuk pesan politik dalam pertandingan sepak bola. Kasus serupa sebenarnya pernah terjadi pada tahun 2014, di mana Asosiasi Sepak Bola Argentina dijatuhi denda sebesar 20.000 poundsterling setelah skuad mereka membentangkan spanduk dengan pesan yang sama sebelum laga persahabatan melawan Slovenia.
Menanggapi insiden tersebut, Pemerintah Britania Raya mendesak badan pengatur sepak bola dunia itu untuk segera mengambil tindakan tegas. Sekretaris Bisnis Britania Raya, Peter Kyle, menyatakan bahwa aksi tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap aturan non-politik dalam olahraga. Menurutnya, Piala Dunia memiliki prinsip dasar bahwa politik harus dipisahkan dari sepak bola, dan ia berharap pihak FIFA melakukan investigasi ini secara menyeluruh.
Dari pengamatan tim redaksi, desakan juga datang dari Partai Liberal Demokrat Britania Raya yang telah menyurati FIFA agar para pemain Argentina yang terlibat dilarang tampil dalam laga final melawan Spanyol pada hari Minggu nanti. Pemimpin partai, Ed Davey, merujuk pada sanksi yang pernah diterima pemain Spanyol, Rodri dan Alvaro Morata, yang sempat dilarang bertanding karena menyanyikan yel-yel politik serupa mengenai Gibraltar.
Pemerintah Kepulauan Falkland juga merilis pernyataan resmi yang mengungkapkan kekecewaan mendalam atas aksi provokatif tersebut. Mereka menilai spanduk itu sangat tidak sensitif bagi para korban invasi tahun 1982 dan berharap FIFA konsisten dengan komitmennya untuk menjaga integritas olahraga dari kepentingan politik praktis.
Merespons gelombang protes tersebut, juru bicara FIFA menyatakan bahwa Komite Disiplin independen kini sedang mengevaluasi laporan pertandingan dan mempertimbangkan keadaan terkait sebelum memutuskan langkah hukum berikutnya berdasarkan Kode Disiplin FIFA.