Pelatih tim nasional Inggris, Thomas Tuchel, tidak tinggal diam setelah timnya disingkirkan oleh Argentina di babak semifinal Piala Dunia. Pelatih berusia 52 tahun tersebut dengan tegas membantah anggapan bahwa keputusan taktisnya yang menjadi penyebab utama kegagalan The Three Lions. Sebaliknya, ia justru meluapkan kekesalannya dengan menunjuk adanya kelemahan mendasar dalam "DNA" sepak bola Inggris jika dibandingkan dengan negara-negara raksasa sepak bola lainnya.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan laporan yang beredar, sejumlah pemain Inggris dikabarkan sempat "terkejut" dengan keputusan taktis Tuchel yang menerapkan strategi sangat bertahan setelah Anthony Gordon mencetak gol pembuka pada menit ke-55. Dari pantauan redaksi, Inggris langsung menumpuk pemain di area pertahanan sendiri dan terus digempur oleh Argentina. Statistik mencatat bahwa Inggris hanya menguasai 12 persen bola sejak menit ke-55 hingga menit ke-92, sebuah angka terendah bagi tim yang sedang unggul dalam 60 tahun terakhir sejarah Piala Dunia.
Keputusan Tuchel mengganti Anthony Gordon dengan Ezri Konsa untuk mengubah formasi menjadi lima bek justru berbuah petaka. Laporan dari The Telegraph mengklaim bahwa masuknya Ezri Konsa, Nico O'Reilly, dan Dan Burn demi mempertahankan keunggulan tipis membuat para pemain terheran-heran. Menurut internal skuad, ada keyakinan kuat bahwa Argentina sebenarnya bisa dikalahkan hari itu jika mereka memanfaatkan momentum dengan melakukan serangan balik cepat.
Menanggapi kritik tajam yang mengarah kepadanya, Tuchel langsung melayangkan pembelaan keras. "Tidak, saya yakin itulah sifat alami dari permainan ini. Begitu Anda kalah, Anda akan dikritik. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi jika kami mengambil keputusan yang berbeda," ketus Tuchel saat diwawancarai oleh Sky News sehari setelah pertandingan.
Tuchel menegaskan bahwa masalah utama bukan terletak pada formasi lima bek yang ia terapkan, melainkan kegagalan para pemain untuk mempertahankan penguasaan bola secara aktif. Menurut pengamatan tim redaksi, Tuchel merasa para pemainnya terlalu pasif dan kalah dalam duel-duel fisik. Kondisi tersebut memaksa lini pertahanan turun terlalu dalam demi menghalau pergerakan lini kedua dan umpan-umpan matang dari para pemain Argentina.
"Saya pikir penguasaan bola memainkan peran yang sangat krusial. Hal itu mungkin tidak ada dalam DNA kami seperti halnya dalam DNA Spanyol atau DNA Argentina-Brasil, untuk mengambil bola dan mengendalikan permainan dengan bola tersebut," tambah mantan manajer Chelsea itu untuk memperjelas argumennya mengenai kelemahan timnya.
Selain masalah teknis dan mentalitas, Tuchel juga mengeluhkan faktor non-teknis yang menguras fisik anak asuhnya sepanjang turnamen. Menurutnya, kondisi cuaca panas yang menyengat serta bermain di dataran tinggi, ditambah beberapa laga yang harus dilalui dengan kekurangan jumlah pemain, menjadi faktor kelelahan ekstrem yang harus dibayar mahal di akhir turnamen.
Kendati gagal total di Piala Dunia, posisi Tuchel dipastikan masih aman berkat dukungan penuh dari FA. Berdasarkan laporan dari ESPN, pelatih asal Jerman itu telah menandatangani perpanjangan kontrak berdurasi dua tahun pada Februari lalu. Tuchel tetap optimistis dapat mempersembahkan trofi utama di masa depan dan yakin masih banyak ruang untuk berkembang demi mencapai level tertinggi yang diimpikan publik Inggris.